Di balik selembar kain batik, ada cerita yang lebih panjang daripada motif dan warna. Ada tangan perajin yang tekun, ingatan budaya yang diwariskan, juga kecemasan kecil tentang bagaimana usaha tetap berjalan ketika pasar berubah. Batik yang indah ternyata belum tentu cukup untuk membuat sebuah usaha bertahan.
Dari persoalan itulah Prof. Dr. Sri Lestari, guru besar dan dosen manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), banyak belajar dari lapangan. Prof Cici, begitu ia akrab disapa, sejak 1998 menekuni bidang manajemen dengan konsentrasi keuangan. Namun, perjumpaannya dengan para pelaku UMKM memperlihatkan bahwa ilmu manajemen tidak hanya hidup di ruang kuliah. Ia justru menemukan maknanya ketika menyentuh usaha kecil, mulai dari pertanian, bambu, hingga batik.
"Produk yang bagus tidak otomatis membuat usaha berhasil. Kalau manajemennya tidak baik, usaha akan sulit berkembang," ujarnya saat diwawancarai jurnalis Magnifika.
**Pentingnya Literasi Keuangan**
Dalam pendampingan UMKM batik, Prof Cici berulang kali menemukan pola yang sama. Banyak kelompok mampu menghasilkan batik yang baik, tetapi usahanya berhenti tumbuh. Sebabnya kerap sederhana, tetapi menentukan: semua orang sibuk memproduksi, sementara pemasaran, pencatatan keuangan, dan pengelolaan usaha berjalan tanpa pembagian tugas yang jelas.
"Harusnya ada pembagian tugas yang jelas. Ada yang produksi, ada yang mengurus pemasaran, ada yang mengelola keuangan," jelasnya.
Tanpa manajemen yang rapi, produk bisa menumpuk, uang usaha bercampur dengan kebutuhan pribadi, dan harga jual ditetapkan tanpa menghitung biaya secara lengkap. Banyak pelaku UMKM tidak memasukkan nilai tenaga kerja sendiri ke dalam perhitungan. Akibatnya, usaha tampak bergerak, tetapi keuntungan yang sehat sulit tumbuh.
Bagi Prof Cici, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menulis pemasukan dan pengeluaran. Ia mencakup pengelolaan arus kas, pemahaman pemasaran, pembagian peran dalam organisasi, serta kemampuan memilih sumber pembiayaan yang aman.
Perhatian khusus ia berikan pada layanan keuangan digital, termasuk pinjaman daring dan financial technology. Akses pembiayaan memang bisa membantu UMKM, tetapi tanpa pemahaman yang cukup, kemudahan itu dapat berubah menjadi beban.
"Banyak pinjaman digital yang biayanya tinggi. Kalau tidak terliterasi dengan baik, mereka bisa terjebak utang," katanya.
**Beradaptasi dengan Digitalisasi**
Perubahan teknologi membuat transaksi UMKM ikut berubah. Transfer bank, QRIS, e-wallet, dan marketplace kini menjadi bagian dari keseharian. Namun, digitalisasi tidak otomatis membuat usaha lebih tertib. Karena itu, Prof Cici mendorong pelaku UMKM mengenal pencatatan keuangan digital, termasuk melalui aplikasi SIAPIK.
Ia juga melibatkan generasi muda. Anak-anak pelaku batik sering diajak membantu orang tua mereka, terutama dalam pencatatan dan pemasaran daring. "Anak-anaknya kami dorong untuk membantu. Biasanya mereka lebih cepat menerima teknologi," ujarnya.
Di tengah transaksi yang makin digital, keamanan menjadi perhatian baru. Pelaku UMKM diingatkan agar tidak mudah membuka tautan mencurigakan, berhati-hati terhadap pinjaman ilegal, dan menjaga informasi pribadi. Bagi Prof Cici, keamanan digital tidak bisa dipisahkan dari manajemen keuangan. Keduanya sama-sama menentukan kesehatan usaha.
Di akhir perbincangan, Prof Cici menitipkan pesan sederhana. Keberlangsungan batik Banyumas tidak hanya berada di tangan perajin, kampus, atau pemerintah. Masyarakat ikut menentukan melalui pilihan sehari-hari. "Cintai produk sendiri, terutama produk batik lokal. Di balik selembar batik tulis ada nilai budaya, kreativitas, dan kerja keras yang besar," katanya.


